Ads Top

“Sopo wonge sing gelem ngopeni NU bakal tak anggap dadi santriku. Sing dadi santriku tak dongakke husnul khotimah sak anak putune.” –KH Hasyim Asy’ari

Foto KH Hasyim Asy'ari

Banyak yang menangkap maksud dari kalimat Mbah Hasyim di atas adalah siapa saja yang ikut organisasi ke-NU-an sudah termasuk dari upaya “
gelem ngopeni NU”. Namun apakah benar sesederhana itu? Lalu bagaimana dengan warga nahdliyin yang tidak ikut organisasi ke-NU-an?


Ngopeni  berarti memelihara, menjaga, mengurus, dan merawat hal-hal yang menjadi ranah tanggung jawabnya. Hanya orang-orang yang menyadari betul jika Nahdlatul Ulama adalah bagian dari hidupnya yang akan ngopeni dengan cara apapun tanpa paksaan atau tekanan terlebih dahulu, baik dengan ikut organisasi atau tidak.


Ikut organisasi ke-NU-an, tercatat dalam susunan kepengurusan dan dilantik secara sah belum cukup menjadi tanda bahwa seseorang sudah ngopeni NU jika di dalam organisasi tersebut ia pasif dan malah menjadi bagian dari hal yang harus diurusi karena harus dipaksa dulu, diperintah dulu. Seyogyanya, orang yang memang niat ngopeni akan tahu apa saja yang harus dia lakukan. Karena dalam ngopeni itu sendiri terkandung makna kata kerja yang menunjukkan rasa tresno atau suka. Dan orang kalau sudah suka, sayang, pasti akan melakukan apapun untuk menjaga apa-apa yang ia sayangi tanpa harus diperintah dulu.


Nahdlatul Ulama telah menjadi bukti nyata kasih sayang Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari kepada kita semua yang harus kita openi sampai kapan pun. Menurut Achmad Muhibbin Zuhri dalam buku Pemikiran KH M Hasyim Asy’ari tentang Ahl Sunnah wal Jam’ah, puncak dari pemikiran Mbah Hasyim adalah ketika seluruh pandangan, keilmuan, serta pengaruhnya dijadikan sebagai nilai dan ruh dari umat kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, yang kemudian nilai tersebut diinternalisasikan dan diinstitusionalkan menjadi sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Mbah Hasyim telah memberikan segalanya, maka sudah sepantasnya kita ngopeni NU sepenuhnya.


Pada hari di mana kebanyakan dari kita memperingatinya sebagai Hari Kasih Sayang atau Valentine Day, penulis ingin mengajak pembaca untuk bertawasul untuk Mbah Hasyim sebagai bentuk kasih sayang kita sekaligus sebagai bentuk memperingati hari lahir beliau, 14 Februari 1871 M. Semoga antara kita dan Mbah Hasyim, serta antara kita dan NU hanya dipenuhi oleh kasih dan sayang. Aamiin


-Akata

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.