Ads Top

Membuka Mata Untuk Melek Terhadap Lingkungan

Kader CBP Kabupaten Magelang menjaga tata lingkungan


Keberadaan lingkungan hidup sangat berpengaruh bagi manusia. Segala kebutuhan manusia bergantung pada lingkungan. Sebagai contoh yaitu air, kayu, udara dan sebagainya. Berdasarkan UU No 32 Tahun 2009, lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan ruang dengan segala benda dan makhluk hidup didalamnya termasuk manusia dan perilakunya yang memengaruhi keberlangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup yang lainnya. Definisi itu menggambarkan bahwa lingkungan hidup memiliki peran besar dalam keberlangsungan kehidupan manusia.

Fokus pada lingkungan hidup, Indonesia adalah salah satu negara yang terus menunjukkan kepedulian lingkungan. Hal itu terbukti setiap tanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup. Berbagai organisasi melakukan aksinya seperti gerakan menanam satu juta pohon, pamflet tentang menjaga lingkungan bertebaran di media sosial, dialog dengan topik pembahasan lingkungan dilakukan dan sebagainya. Kegiatan positif yang perlu diapresiasi dan patut diacungi jempol. Namun, apakah menjaga lingkungan hidup sudah cukup hanya dengan melakukan aksi berkoar di media sosial? Apakah aksi menanam satu juta pohon sudah diimbangi dengan tidak menebang pohon secara liar dan merusak bagian lingkungan lainnya?

Dalam ilmu fisika, kita mengenal istilah aksi reaksi. Yaitu jika diterjemahkan berarti aksi yang kita lakukan  harus sepadan dengan reaksi yang diberikan. Istilah ini dapat kita terapkan dalam menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Sebagai contoh, jika kita melakukan aksi menanam pohon maka kita juga harus bisa memberikan reaksi dengan merawatnya. Merawat dalam konteks ini bukan hanya terhadap pohonnya saja, tetapi diimbangi dengan merawat lingkungan sekitar. Akan sama saja jika kita menanam pohon hingga ratusan namun tetap melakukan kerusakan pada lingkungan. Hal ini masih sering abai dilakukan. Kerusakan lingkungan nyatanya masih kita jumpai. Memang tidak bisa kita bantah jika lingkungan rusak salah satu penyebabnya karena faktor ekonomi. Apalagi dalam kurungan pandemi ini, segala hal dilakukan guna memperbaiki keadaan ekonomi. Perbaikan itu kebanyakan bergerak dalam bidang bisnis.

Berbicara bisnis, akhir-akhir ini banyak investor tengah melirik suatu daerah yang memiliki potensi sumber daya alam untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Hal itu akan berkembang dengan baik jika sejalan dengan pengelolaan yang baik pula. Perlu kerjasama antara investor, pengelola dengan masyarakat sekitar. Jangan sampai perekonomian dari sektor wisata meningkat namun kondisi sekitar (lingkungan) justru memburuk. Oleh karena itu diperlukan adanya kesadaran dalam merawat lingkungan. Tentu kesadaran ini tidak bisa tercipta dengan instan. Lambat laun akan muncul dengan sendirinya jika kita ada usaha.

Sebagai generasi muda, sudah saatnya kita melek dengan lingkungan. Jangan hanya menikmati keindahan alam saja tapi tidak ada usaha untuk menjaganya. Harus selalu diingat bahwa yang hidup didunia ini bukan hanya generasi kita saja. Masih banyak generasi selanjutnya yang juga menginginkan keindahan dan kemurnian alam/lingkungan ini. Mereka tidak ada kewajiban menanggung kerusakan yang telah kita lakukan. Sebaliknya, mereka harus merasakan keindahan yang kita ciptakan saat ini. Keindahan yang dimaksud adalah memelihara alam agar tetap asri dan menjaganya dari tangan-tangan asing yang berusaha menguasai tanpa diikuti tanggung jawab. Sudah bukan waktunya untuk egois ingin memenuhi hak menikmati alam. Kit
a juga harus sadar akan kewajiban kita menjaga dan merawat alam.

(Suma)

 

 

 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.