Kalau Hanya Tidak Makan dan Minum, Itu Bukan Puasanya Manusia

sumber gambar :wikipedia
Menahan lapar dan haus di bulan puasa memang cukup mudah. Tapi bagaimana dengan ghibah, julid, gosip, berbohong dan egoisme dalam diri kita? Puasa kan tidak hanya menuntut kita untuk tidak makan dan minum. Masih banyak hawa nafsu yang harus kita kendalikan di bulan puasa, karena nafsu merupakan titik pusat dari segala rasa kesenangan. 

Usaha pengendalian manusia atas hawa nafsu dalam dirinya biasa disebut mujahadah an nafs. Rasulullah pernah berkata bahwa jihad melawan hawa nafsu sendiri lebih berat daripada jihad melawan musuh. Ini cuma pengetahuan saya saja, cmiiw karena saya tidak banyak tau tentang hadist. Sejenak menilik kembali menuju tahun 1800-an, seorang Raja di Keraton Surakarta, Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana IV menulis sebuah karya sastra sohor yang berjudul Serat Wulangreh. Karya ini memuat banyak sekali ajaran-ajaran, piwulang dan petuah hidup. Kental sekali akan judulnya yaitu wulang. 

Terlampau banyak sekali piwulang yang bisa diteladani dari serat ini. Berikut sedikit piwulang yang dapat kita lakukan dalam usaha mujahadah an nafs di bulan puasa ini. 

1. Mengendalikan Nafsu yang Berkobar 

Pengendalian nafsu di bulan puasa sangat diperlukan untuk menyempurnakan ibadah puasa kita. Kita harus menyadari bahwa ada Yang Maha Mengendalikan seluruh jagad raya. Terlepas dari itu, kita juga harus melakukan usaha sekuat-kuatnya dan berdaulat atas nafsu yang ada dalam diri kita. 

Dalam Serat Wulangreh pupuh tujuh tembang Durma bait kedua, Pakubuwana IV menyampaikan "...yen ana Kang Amurba, misesa ing alam kabir, dadi sabarang, pakaryanira ugi." Yang artinya, bahwa ada yang Menguasai, yang mempunyai Kuasa di alam raya, semuanya, juga segala perbuatanmu. 

Jangan sampai puasa kita hanya sebatas menahan lapar saja. Jelas ya, bahwa kita harus berusaha meredam segala nafsu yang ada dalam diri kita. 

2. Introspeksi Diri 

Seringkali ketika bulan puasa dan merasa lapar dan membatalkan puasa dengan makan (kalau istilah bekennya mokah) sebagian dari kita akan berkata "wah, gara-gara godaan setan ini". Kita akan cenderung menyalahkan orang lain, misalnya teman yang ngajak makan. Tapi sadarkah bahwa semua itu berasal dari manajemen nafsu kita yang gagal? 

Dalam Serat Wulangreh pupuh tujuh tembang Durma bait ketiga, Pakubuwana IV menyampaikan "...cilaka mapan saking, ing badan priyangga, dudu saking wong liya, mulane den ngati-ati..." Yang artinya, segala bentuk kesengsaraan berasal, dari badan kita sendiri, bukan dari orang lain, maka berhati-hatilah. 

Jadi, sudah jelas kan bahwa segala perbuatan kemungkaran kita itu berasal dari diri kita sendiri. Belajar mengoreksi diri sendiri tanpa menyalahkan orang lain. 

3. Jangan Merasa Benar Sendiri 

Ingat bahwa puasa tidak hanya menuntut kita untuk menahan lapar dan haus saja. Kita sering merasa bahwa kita selalu berbuat benar, tanpa mengindahkan pendapat orang lain. Tak tau kesalahan diri sendiri memunculkan nafsu egoisme yang berlebihan. 

Pakubuwana IV dalam Serat Wulangreh pupuh tujuh tembang Durma bait keenam, menyampaikan "...sanadyan benera, yen tindake wong liya, pesthine ingaran sisip." Yang artinya "...meskipun benar, jika itu adalah tindakan orang lain, pasti akan dianggap salah." 

Kritik bagi diri kita yang sering merasa benar sendiri, apalagi ketika merasa sudah bisa menjalankan puasa lalu merasa menjadi orang yang paling baik diantara yang lain. Jadi, jangan sampai merasa benar sendiri. Sadari bahwa setiap tindak laku kita dipenuhi salah dan keliru. 

4. Berlaku Secukupnya 

Kita sering merasa berlebihan dalam menyukai sesuatu. Contoh saja ketika menjelang buka puasa, kita sering merasa apapun ingin dibeli, apapun ingin kita makan. Hal tersebut termasuk dalam perilaku takabur. Lain halnya ketika kita sudah tidak suka dengan sesuatu. Kita pasti akan mencelanya sekuat tenaga. 

Dalam Serat Wulangreh pupuh tujuh tembang Durma bait sebelas, Pakubuwana IV menyampaikan bahwa "...yen ora sinenengan, den poyok kapati-pati." Yang artinya, "...jika sudah tidak suka, akan mencelanya mati-matian." 

Sudah seyogyanya bahwa kita harus bertindak secukupnya atas sesuatu. Menyukai dan membenci sesuatu dengan kadar yang pas. Berlebihan dalam mencintai sewaktu-waktu bisa membenci. Begitu sebaliknya, berlebihan dalam membeci juga sewaktu-waktu bisa mencintai. Jadi, manajemen hati adalah kunci agar bisa berlaku dan menilai secukupnya. 

Jadi, puasanya manusia itu tidak hanya sekedar menahan makan dan minum. Jika hanya tidak makan dan minum saja, semua makhlukpun bisa. Bahkan harus kita akui kalau kita kalah jika dibandingkan dengan puasanya binatang dan tumbuhan. Memang ini sangat berat. Tapi yakinlah bahwa kita harus bisa mengendalikan nafsu, bukan kita yang dikendalikan nafsu. Kita harus berdaulat dan menjadi subjek dalam kehidupan kita. 


Kontributor : Afifah Enggar | IPPNU Salaman

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.