Bulan Ramadhan dan Spirit Kepedulian Sosial

sumber gambar faktualnews.co
Tidak terasa Ramadhan telah berada di penghujung bulan. Sejak awal bulan Ramadhan, kita sebagai umat Islam tentu selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas ibadah dengan menjalankan puasa penuh, melaksanakan shalat tarawih, memperbanyak membaca al-Qur’an, memperbanyak shalat sunnah dan ibadah yang lainnya. Terlebih di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan, di mana orang yang masih istiqamah akan dihindarkan dari api neraka (itqun minan nar). Disamping itu pada malam ganjil umat Islam berlomba-lomba mencari lailatul qadar dengan memperbanyak i’tikaf. Kesemua itu merupakan upaya taqaruban ilallah (mendekatkankan diri kepada Allah) untuk mencapai predikat muttaqin (orang yang bertaqwa). 

Diakhir Ramadhan umat Islam juga diperintahkan untuk menunaikan zakat fitrah. Tentunya untuk mensucikan dan menyempurnakan puasa kita di bulan Ramadhan. Adapun Zakat fitrah diwujudkan dengan bahan makanan pokok (bahan konsumtif) dan harus diselesaikan tanggungannya, dibayarkan dan dibagikan sebelum shalat id. Maka ketika zakat fitrah dibayarkan setelah shalat id maka sudah bukan termasuk zakat, namun menjadi sedekah biasa. Hal ini bertujuan tu’matan lil masakin (memberi makan orang miskin), harapannya di saat hari raya dimana semua umat Islam bersama-sama merayakan suka cita, tidak ada satupun orang yang susah karena kelaparan tidak punya bahan makanan. Seperti sabda Rasulullah saw, “Ughnuhum an thawwafi hadzal yaum”, cukupilah mereka (orang miskin) pada hari ini (Idul Fitri). Ternyata, Zakat disamping sebagai kewajiban Agama Islam, juga memiliki nilai akan kepedulian sosial. 

Tak hanya itu saja, ternyata ibadah puasa juga memberikan hikmah mengenai kesetaraan sosial, dimana semua umat Islam merasakan penderitaan yang sama, tanpa membedakan latar belakang sosial atau status sosial, baik yang miskin maupun yang kaya, semua sama-sama merasakan rasa lapar dan haus, sama-sama memiliki kesempatan makan dan minum diwaktu tertentu yaitu saat sahur dan berbuka. 

Puasa juga memberi pelajaran kepada kita akan pentingnya bersikap jujur. Bisa saja seorang berkata dirinya sedang puasa dihadapan umum, tetapi dibaliknya ia tidak puasa. Sudah barang tentu yang akan mendapatkan kerugian adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Maka disinilah pentingnya kejujuran. 

Dari sini kita ketahui bahwasanya Bulan Ramadhan memiliki dua dimensi, pertama dimensi spiritual (hablu minallah) dimana kita dituntut untuk memperbanyak beribadah kepada Allah SWT, dan disatu sisi dimensi sosial (hablu minannas), dimana kita dituntut untuk peduli terhadap sesama. Inilah indahnya Islam, kita tidak diajarkan untuk bersikap egois, beribadah sendiri, memikirkan keselamatan diri kita sendiri tetapi abai dengan sesama, terlebih disaat pandemi seperti ini, dimana banyak orang yang membutuhkan. Disinilah peran kita untuk membantu sesama, apalagi kita sebagai pelajar NU yang selain agamis, juga peka terhadap kondisi sosial. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari bulan Ramadhan tahun ini. Salam belajar berjuang bertaqwa. 

Wallahu a’lam.

Kontributor : Reynaldi Cahyo (Ketua PAC IPNU Mungkid)

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.