Ads Top

Dawuh Keramat Mbah Hamid Kajoran: Sopo Ngaji Bakal Aji


Salah satu dawuh Mbah Hamid Kajoran  khususnya bagi para santri agar mencintai ilmu dan mencintai proses mencari ilmu itu sendiri, “Sopo Ngaji Bakal Aji” KH. Abdul Hamid Kajoran. Begitu kalimat dawuh sekaligus motivasi yang sudah tak asing lagi bagi para santri dari seorang Kiai yang menjadi salahsatu pelopor diterimanya Pancasila sebagai azas tunggal di kalangan Ulama NU. Mbah Hamid sapaan akrab KH. Abdul Hamid Kajoran yang masyhur kewaliannya itu dikisahkan sangat mencintai ilmu, bahkan suatu hari Mbah Hamid memberi oleh-oleh kepada KH. A Baidhowi berupa Kitab Syarah Bukhari 12 Jilid (Kitab yang disenangi Gus Baidhowi) dengan salah satu mahar yaitu Mbah Hamid meminta agar didoakan anak cucunya suka mengaji.

Dawuh “Sopo Ngaji Bakal Aji” yang menjadi kalimat senjata motivasi bagi anak cucu dzuriyah Mbah Hamid dan para santrinya ini juga banyak tertempel di tembok ruang tamu ndalem putra dan santri beliau yang tersebar di berbagai daerah. Menjabarkan dawuh Mbah Hamid, Gus Baqoh (putra KH. Abdul Hamid Kajoran) pernah menjelaskan kepada penulis bahwasannya Ngaji sebagai budaya dan kewajiban dalam prespektif santri salaf menjadi langkah bagi setiap orang untuk memantaskan diri agar mengenal Allah SWT. sebagai Tuhan penguasa alam (hablumminallah) dan juga sebagai langkah bagi kita untuk menjadi layaknya manusia yang mampu bergaul dengan manusia lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari (hablumminannas).

Mbah Hamid yang terkenal sebagai pendakwah dengan selalu menggunakan kemasan dakwah antik nan apik disertai bumbu akhlaqul karimah ini hampir sehari-harinya digunakan untuk rihlah dalam rangka menyebarkan ajaran Islam ke berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari masyrakat awam, santri bahkan juga kegiatan diskusi-diskusi informal bersama kiai-kiai sepuh untuk mencari solusi permasalahan umat pun dilakukan oleh ulama kharismatik asal Banjaragung Kajoran Magelang ini. Dalam sebuah cerita juga dikisahkan bahwa setiap Mbah Hamid akan pergi berdakwah, sering kali beliau berpamit dengan kalimat kinayah “Nyong arak lungo ngileake banyu (saya hendak pergi mengalirkan air)”. Sungguh keteladanan seorang kiai yang ingin mengajarkan kepada santrinya agar hatinya tidak terjangkit penyakit takabur, riya, ujub dan sebagainya. Mengalirkan air dalam kalimat kinayah tersebut juga dapat diartikan menyebarkan ilmu-ilmu yang dimiliki Mbah Hamid kepada masyarakat secara luas untuk menyempurnakan pengetahuan keagamaan mereka.

Mbah Hamid selain dikenal sebagai wali dengan segudang karomahnya itu juga dianggap sebagai aktivis organisasi bernama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Beliau ikut mengambil peran penting dalam sejarah kiprah organisasi Islam terbesar di dunia itu. Dipaparkan oleh Gus Rosyid dalam sebuah FGD bersama pengurus PAC IPNU&IPPNU Kecamatan Kajoran di Pondok Pesantren Bodho Nahdlatut Tullab Banjaragung, bahwa Mbah Hamid ini adalah seorang ulama yang kategorinya menjadi kunci di kalangan para kiai Nahdlatul Ulama pada waktu itu. “Kalau anda lihat di logo NU ada tali yang diikat longgar. Ikatan tali yang dilonggarkan itu adalah salahsatu usulan Mbah Hamid yang sangat dipertimbangkan para kiai-kiai NU saat itu” tegas Gus Rosyid. Ikatan longgar pada tali ini mempunyai arti toleransi, dalam menjalankan misi organisasi sebagai media dakwah islami Mbah Hamid menyumbangkan pemikiran bahwa NU harus selalu melihat situasi dan kondisi. Usulan Mbah Hamid itu yang menjadi salahsatu dasar bagi NU untuk hadir memberi solusi permasalahan umat dengan tidak hanya mengkaji secara tekstual saja tetapi juga mempertimbangkan kontekstualnya, “Ini salah satu usulan sederhana Mbah Hamid yang saat menjadi ciri khas pergerakan jam’iyyah kita” tambah Gus Rosyid. (nandcbp)



Sumber :

https://www.muslimina.id/kh-abdul-hamid-kajoran/
https://bangkitmedia.com/kh-hamid-kajoran-jelaskan-pancasila-kh-ali-maksum-menangis/
https://www.nu.or.id/post/read/45111/mbah-liem-ulama-nasionalis-sejati
https://www.liputan6.com/news/read/2310513/jk-nu-ormas-islam-terbesar-di-dunia


Dawuh KH. Baqoh Arifin Abdul Hamid (putra KH. Abdul Hamid Kajoran) membekali Pengurus PAC IPNU Kecamatan Kajoran tahun 2015.



Focus Group Discussion (FGD) PAC IPNU&IPPNU Kecamatan Kajoran bersama Gus Royid Muhammad (suami Ning Hanim cucu KH. Abdul Hamid Kajoran) tahun 2017

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.