Musikalisasi Puisi Jadikan Selapanan IPNU IPPNU Kalinegoro Lebih Berarti

Musikalisasi puisi di Selapanan Ranting
Mertoyudan - Pada Ahad, 15 Maret 2020 rutinan ranting IPNU - IPPNU desa Kalinegoro diadakan dirumah rekanita Ngumdatul Martina dusun Kaligintung. Ini merupakan ketiga kalinya selapanan diasakan. Selain dihadiri anggota dari ranting desa Kalinegoro, hadir pula pengurus harian IPNU - IPPNU kecamatan Mertoyudan dan pengurus ranting IPNU Desa Pasuruhan.

Sebelum masuk acara inti, dari beberapa anggota yang tergabung dalam grup rebana IPNU - IPPNU desa Kalinegoro mengawali dengan bacaan sholawat Simtudduror pada pra acara. Setelah sampai pada sholawat nabi atau Mahalul Qiyam, kemudian acara baru dimulai dengan runtut.

Memasuki acara inti, semua yang hadir membaca surat Al Fatikhah sebagai doa pembuka dipimpin oleh pembawa acara dan dilanjutkan dengan acara yang sudah berjalan pada umumnya yaitu dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Yalal Wathon dan mars IPNU - IPPNU, baru kemudian mujahadah tahlil dan bacaan Asmaul Husna bersama dipimpin oleh rekan Wahid.

Pada puncak acara ada persembahan karya IPNU - IPPNU desa Kalinegoro berupa musikalisasi puisi. Dari beberapa anggota tampil didepan peserta. Dipimpin langsung oleh ketua IPPNU Kalinegoro, mereka membacakan sebuah puisi saling bersautan dengan iringan musik gitar. Pesertapun menikmati dengan memberikan tepuk tangan. Entah siapa yang memulai, tiba tiba beberapa peserta menangis haru dan disusul oleh peserta lainnya. Suasanapun menjadi mencekam. Mereka menangis menikmati indahnya puisi, termasuk penulis. Tina, panggilan akrabnya memanggil satu persatu perwakilan pengurus harian PAC IPNU IPPNU yang hadir untuk maju kedepan dan saling berpelukan. Kemudian ditutup dengan lagu mars Yalal Wathon, semua ikut bernyanyi. Suasanapun kembali normal seperti sedia kala.

Ketua Pimpinan Ranting IPPNU Desa Kalinegoro
Ditemui seusai acara, Tina mengatakan untuk rutinan Kalinegoro konsep acara memang dibuat berbeda dengan ranting lain. Dia kaget melihat peserta bisa menangis ketika dibacakan musikalisasi puisi. Padahal persembahan puisi hanya bentuk bakat dari ranting untuk sekedar iseng agar acara tidak jenuh tapi kok malah menjadi demikian, canda gadis yang juga masih menempuh kuliah di STAIA Syubbanul Wathon Magelang.

Akhmad Nur Rokhman | MadiNU Mertoyudan
Editor : Ica Annajmussaqib

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.