Hoaks Covid-19 yang Membunuh Kita

source : solopos.com

Sejak Covid-19 menginfeksi warga Wuhan di Tiongkok, WHO telah memberikan warning untuk seluruh Negara di dunia agar mewaspadai persebaran virus baru ini. Hingga tulisan ini dirilis, (21/3), laman worldometers telah mencatat sebanyak 285.665 kasus di dunia dengan total kematian sebanyak 11.875 jiwa. Sekilas terlihat mengerikan, namun ternyata yang lebih mengerikan bukanlah Covid-19, namun hoaks yang beredar luas di masyarakat. 

Di Tiongkok Februari lalu, sebagian warga di Hubei merasa panik akibat infeksi Covid-19 di Negara mereka. Saking paniknya, mereka terhasut hoaks yang mengatakan bahwa kucing dan anjing bisa menularkan virus Covid-19. Alhasil dikutip dari portal berita Kompas.com, sebagian warga yang terhasut hoaks tersebut langsung melempar kucing dan anjing peliharaannya dari sebuah apartemen di kota Tianjing, Provinsi Hubei, Tiongkok. 

Hoaks memang selalu terdengar buruk dan menyesatkan. Tidak hanya hoaks politik, ada banyak hoaks kesehatan yang sangat menyesatkan dan berakibat fatal terhadap kesehatan bahkan jiwa manusia. Di Iran misalnya. Beberapa waktu lalu, mereka digegerkan dengan informasi broadcast yang tertulis bahwa alkohol dapat membunuh virus Corona (Covid-19). Mereka menelan informasi itu mentah-mentah yang berakibat fatal. Alih-alih membunuh virus, alkohol jika dikonsumsi berlebihan dan sembarangan justru bisa membahayakan nyawa manusia. Terhitung akibat hoaks ini, 27 orang di Iran meninggal dunia. 

Di Indonesia, hingga saat ini hoaks makin massif beredar. Dari percakapan penulis dengan salah satu pemeriksa fakta independen Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) terhitung hingga hari ini (21/3), sudah ada 154 hoaks yang telah disanggah oleh mereka. Sementara itu dari rekapitulasi hoaks tentang Covid-19 oleh Kominfo, tercatat ada 200 lebih kasus. Diantara hoaks yang paling massif beredar adalah hoaks yang menyangkut kesehatan. Sayangnya hoaks tersebut juga turut dibagikan oleh orang-orang yang memiliki gelar dan pengikut lumayan banyak. 

Keberadaan hoaks cukup membuat rasa resah, panik dan ketakutan yang tidak perlu di kalangan masyarakat. Naas, peredaran hoaks lebih cepat dibandingkan penyebaran virus itu sendiri. Mirisnya lagi, sebagian masyarakat Indonesia masih ada yang gagap informasi bahkan buta literasi. Sehingga ada informasi apapun, langsung ikut-ikutan share dan posting. Ini tentu dampaknya sangat fatal.

Sebagai warga yang sudah memahami literasi digital, kita harus memberikan edukasi kepada publik supaya tidak terjebak dan terperangkap oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya atau hoaks. Karena hoaks bisa jadi boomerang bagi diri kita. Hoaks kesehatan misalnya, alih-alih membuat kita makin sehat, justru bisa mengancam diri bahkan nyawa kita. Mari kita bergotongroyong bekerjasama membersihkan internet dan dunia nyata kita dari virus yang lebih berbahaya dan lebih mematikan dari Covid-19, yakni informasi palsu dan menyesatkan bernama hoaks.

By Vinanda Febriani | Mafindo Magelang

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.