Ads Top

Gus Mansyur : Tanamkan Jihad Ruh, bukan Jihad Fisik Semata

Gus Mansyur dalam Selapanan NU Borobudur
Borobudur - Organisasi Nahdlatul Ulama merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia. Tentu, dengan jumlah jamaah yang juga melimpah ruah. Eksistensi NU diharapkan terus megakar kokoh di Indonesia baik secara strukturalis maupun kulturalis. Salah satu eksistensi kulturalis NU adalah dikumandangkannya pengajian-pengajian selapanan NU, pembacaan kitab kuning dan kegiatan lainnya yang bertendensi pada Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah. 

“Pengajian Selapanan Nahdlatul Ulama Ranting Candirejo, Kec. Borobudur Beserta Banomnya”, merupakan agenda wajib NU Ranting Candirejo yang harus dijaga keistiqomahannya. Acara pengajian selapanan kali ini, bertempat di Dusun Cikal, Candirejo, Borobudur yang dibarokahi dengan kehadiran KH. Mansyur Haddiq, Wakil Rois Syuriah PCNU Kab. Magelang, Ahad (15/03).

Pada acara inti, Gus Mansyur mengutip lirik terakhir lagu Ya Lal Wathon sebagai pembuka mau’idzatul hasanahnya. “Siapa datang mengancammu, kan binasa di bawah durimu. Tenan po ra? Kulo khawatir semangat lambe, padahal niki kedah semangat batin,” dinyanyikan dengan suara khas merdu beliau. Beliau mempertanyakan kesemangatan warga nahdliyyin yang hadir, apakah kita semua sudah benar-benar jihad secara ruh? Jangan-jangan, jihad kita baru jihad fisik saja, belum jihad ruh. 

Salah satu yang beliau paparkan di awal ceramahnya,”Di dalam NU terdapat 9 Nahdlah ( Sembilan Kebangkitan), dua diantaranya Nahdlah Iqtishodiyyah ( نَهْضَةٌ إِقْتِصَادِيَّةٌ ) yaitu kebangkitan ekonomi dan Nahdlah ‘Umraniyyah (نَهْضَةٌ عُمْرَانِيَّةٌ) yaitu kebangkitan pembangunan”. Beliau mengibaratkan, pembangunan itu ada fisik dan ruh. Ibarat pembangunan masjid, saat pembangunan masjid (secara fisik) , saat ngarak mustaqa banyak yang hadir membantu pembangunan tersebut dan banyak yang hadir menonton prosesi ngarak mustaqa. Namun saat masjid sudah berdiri tegak menjadi bangunan yang megah, akan terjadi perubahan kuantitas masyarakat secara drastis, hanya dapat dihitung dengan jari saja, masyarakat yang hadir ke masjid untuk sholat berjamaah (secara ruh). Sangat jauh berbeda dengan saat pembangunan fisik masjid. Ini menunjukkan bahwa pembangunan di lingkungan kita masih sebatas pembangunan fisik, bukan ruhnya. 

Hal ini yang perlu kita prihatinkan, kita perlu upgrade jihad ruh NU kita semua. Jika jihad sudah sampai ruh/batin, maka kita tidak akan menjual organisasi kita demi kepentingan pribadi atau kepentingan pihak tertentu. Sudah saatnya, kita warga Nahdliyyin bergerak menuju jihad ruh dalam bidang ekonomi dan pembangunan kader NU yang militan. "Saya sebagai Pelajar NU Ranting Candirejo, termotivasi sekali dengan penjelasan-penjelasan yang disajikan dengan gamblang oleh Al Mukarram Gus Mansyur. Tergerak hati saya dan kawan-kawan, untuk menata diri kembali, bersama-sama berjuang dengan fisik dan ruh untuk kekokohan Nahdlatul Ulama," tegas Rekanita Nikmah, anggota PR IPPNU Candirejo.

Redaktur : Lana Zahratul

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.