Berjati Diri Menjadi Perempuan Kreatif dan Inspiratif

Nahda Ellen Fandinka | Ketua PC IPPNU Kabupaten Magelang
"Kemanusiaan hanya bisa dipelihara dan ditegakkan kalau keadilan dan kesetaraan itu menjadi prinsipnya. Termasuk kesetaraan antara perempuan dan laki-laki," Abdurrahman Wahid.

Zaman modern makin menggema, revolusi industri makin berpacu mewarnai perputaran bumi di abad ke-21 ini. Manusia dipaksa untuk saling berlarian mengejar salah satu yang dibutuhkan dalam berkehidupan, yakni pekerjaan. Perbedaan gender bukan jadi penghalang seseorang dalam mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. Ini zaman modern, bukan zaman Siti Nurbaya dimana perempuan mendapat banyak hambatan-hambatan untuk berkembang layaknya kaum laki-laki.

Kita hidup di masa sekarang, dimana idealnya, kita akan berbicara tentang masalah yang dihadapi sekarang sembari mempersiapkan kematangan di masa mendatang. 

Saat ini banyak sekali orang yang memperjuangkan emansipasi wanita, melanjutkan perjuangan Raden Ajeng Kartini di masa lalu. Di beberapa kelompok masyarakat, perempuan masih disimpan rapat bak properti yang harus benar-benar dijaga keberadaannya. Parahnya kemudian, para perempuan ini tidak bisa dengan leluasa berselancar di dunianya sebagaimana kaum laki-laki. Mereka terkekang oleh beranekaragam aturan-aturan pembatasan. Akhirnya mereka tak bisa kritis dan cenderung tidak kreatif.

Dalam prinsip Pancasila yang mengatur aspek kehidupan masyarakat Indonesia, sebenarnya telah tertuang secara jelas bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Mereka berhak mendapat jaminan kebebasan berekspresi dan mendapatkan perlakuan setara dihadapan hukum.

Sebagaimana yang pernah diungkapkan Najwa Shihab, perempuan selalu dihadapkan dengan pertanyaan atau pernyataan yang menggambarkan seolah perempuan adalah makhluk tak berdaya. Kenyataannya sejak dahulu, masyarakat masih menganggap bahwa tugas perempuan adalah 3M "Masak, Macak, Manak". Selebihnya seperti bekerja, berkreatifitas, menapaki karir dan lain sebagainya adalah tugas laki-laki.

Dalam tradisi patriarki, laki-laki adalah makhluk paling berhak menjadi pemimpin baik dalam berorganisasi, pekerjaan, kelembagaan atau bahkan menjadi pemimpin negara. Namun beruntung di Indonesia, tradisi patriarki ini dibantah dengan adanya kepemimpinan Megawati Soekarnowati menjadi Presiden perempuan Indonesia pertama dan satu-satunya setelah lengsernya Presiden pertama yang dipilih secara demokratis, KH Abdurrohman Wahid, 2001 lalu.

Di Arab Saudi, beberapa tahun terakhir perempuan baru diperbolehkan keluar rumah, menyetir mobil dan aktivitas lain sebagaimana laki-laki. Sebelumnya disana mereka terbelenggu dengan ketatnya aturan terhadap perempuan. Beruntunglah, di Indonesia tidak diberlakukan aturan demikian.

Di era revolusi industri 4.0 yang hendak menapaki 5.0 ini, kita sebagai masyarakat Indonesia harusnya tak lagi bias gender. Jika saja kita masih bias gender, artinya kita tak bisa bersaing secara sehat. Para kaum laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki andil untuk bersaing menjadi yang terdepan, berinovasi sekreatif mungkin dan menjadi public figure teladan masyarakat. Sebab yang dibutuhkan oleh peradaban saat ini bukanlah gender, tetapi kualitas. Satu perempuan yang ulet dalam bekerja cenderung lebih dipilih dibanding lima laki-laki yang hanya bisa mengeluh dan pasrah terhadap keadaannya.

Selamat hari perempuan internasional. Teruslah menjadi insan feminis yang inovatif, kreatif, optimis dan inspiratif dalam mengembangkan karir dan memajukan peradaban. Jadilah perempuan-perempuan hebat kebanggaan Ibu Pertiwi Indonesia.

Vinanda Febriani | PC IPPNU Kabupaten Magelang

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.